Showing posts with label Fikrah Islam. Show all posts
Showing posts with label Fikrah Islam. Show all posts

Friday, November 27, 2009

MENJAGA KESUCIAN UKHWAH



Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa. Selawat dan salam sejahtera kepada baginda Nabi
terakhir, yang tiada Nabi sesudahnya.

Amma ba'du.
Mencintai sesama Mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu
perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan
persaudaraan sebagai sifat kaum Mukmin dalam kehidupan dunia dan akhirat, seperti dalam
firman-Nya:

"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka
merasa bersaudara, duduk ber-hadap-hadapan diatas dipan-dipan" (al-Hijr [15]: 47).
Persaudaraan yang terjalin antara kaum Mukmin merupa-kan anugerah nikmat yang
sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana
nikmat itu, sebagai orang-orang yang bersaudara" (Ali 'Imran [3]: 103).

"Dia-lah (Allah) yang memperkuat dirimu dengan pertolongan-Nya dan dengan orangorang
Mukmin. Dan Dia Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang Mukmin).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati
mereka" (al-Anfal [8]: 62-63).

Ukhuwah yang terjalin antara sesama Mukmin tersebut dibangun di atas asas iman dan
aqidah. Ia adalah persaudaraan yang terbina kerana Allah dan merupakan tali iman yang paling
kuat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tali Islam yang terkuat adalah wala' (loyal) kerana Allah, memusuhi kerana Allah, cinta kerana Allah, dan benci kerana Allah 'Azzawa Jalla."

Dalam sebuah hadith Qudsi dinyatakan:
"Orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku akan diberikan padanya mimbar dari
cahaya yang dicemburui (ghibthah) oleh para Nabi dan syuhada.”
Dalam hadith Qudsi lainnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Cinta-Ku mesti bagi orang-orang yang saling mencintai kerana Aku; cinta-Ku mesti
bagi orang-orang yang saling bersilaturahim kerana Aku; cinta-Ku mesti bagi orangorang
yang saling menasihati kerana Aku; cinta-Ku mesti bagi orang-orang yang saling
mengunjungi kerana Aku; cinta-Ku mesti bagi orang-orang yang saling memberi kerana
Aku.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
"Suatu hari, seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang
tinggal di suatu kampung. Maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk mencegat di
suatu tempat di tengah-tengah perjalanannya. Ketika orang tersebut sampai di tempat
tersebut, Malaikat bertanya: “Hendak ke mana engkau?” Ia menjawab: “Aku hendak
mengunjungi saudaraku yang berada di kampung ini.” Malaikat kembali bertanya: “Apakah
kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali
kerana aku mencintainya kerana Allah.” Lantas Malaikat itu berkata (membuka
identitasnya): “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dikirim kepadamu untuk
menyampaikan bahawa Allah telah mencintaimu seperti engkau mencintai saudara-mu.”

Dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dua orang saling mencintai kerana Allah, kecuali yang paling besar cintanya di
antara keduanya adalah yang lebih mulia.”

Faktor-faktor pengekal ukhuwah terbagi menjadi dua, yaitu secara
global dan detil: Secara global, pergaulan baik adalah faktor penyebab kekalnya ukhuwah. "Pergaulan baik" merupakan ungkapan yang menghimpun seluruh sarana yang dapat meningkatkan hubungan antara diri Anda dengan sahabat Anda. Dapat pula diertikan sebagai: akhlak mulia yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam wasiatnya:
“Bertakwalah kepada Allah dimanasaja engkau berada. Ikuti-lah kejelekan itu dengan kebaikan,
nescaya kebaikan tadiakan menghapus kejelekan, dan berakhlaklah kepada manusia dengan
akhlak yang baik.”

Banyak sekali ungkapan ulama-ulama terdahulu yang membicarakan tentang pergaulan
baik dan kewajiban seseorang terhadap sahabatnya. Abu 'Atahiyah berkata: Ali Ibnu Haitsam ditanya, "Apa kewajiban seseorang terhadap sahabatnya?" Ia menjawab: "Menyimpan rahsianya, simpati ketika dalam kesusahan, dan memaafkan kesalahannya."

Seorang Badui (masyarakat pedalaman Arab/nomad) pernah ditanya: "Siapakah orang
yang paling baik pergaulannya?" Ia menjawab: "Ia adalah orang yang jika dekat mahu memberi,
jika berpisah memuji, jika disakiti memberi maaf, dan jika ditekan tetap lapang dada. Siapa yang
mendapatkan orang seperti ini, maka dia telah beruntung dan sukses."

Seorang dari suku Quraisy berkata: "Bergaullah dengan manusia sehingga jika engkau
jauh, mereka merindukanmu, dan jika engkau mati, mereka menangisimu."44
Ini merupakan ungkapan yang amat berharga, membuka peluang seluas-luasnya untuk
terus berpacu dan berijtihad dalam mencari sarana-sarana yang dapat merealisasikan pergaulan
yang baik.

Adapun pembahasan detail mengenai masalah ini meliputi aspek-aspek yang tidak
terbatas selama masih dalam lingkup tema pergaulan yang baik. Sementara pembahasan berikut ini, mengenai virus-virus atau noda-noda perusak ukhuwah - yang harus kita hindari - tidak lebih dari upaya agar mampu mewujudkan pergaulan yang baik di antara kita.

TAMAK AKAN KENIKMATAN DUNIA

Mungkin Anda bertanya: adakah hubungan antara cinta yang terjalin antara dua insan,
dengan sifat tamak akan kenikmatan dunia yang ada pada salah seorang di antara mereka atau
keduanya?

Secara pasti, jawabannya adalah: ya! Jika sifat tamak akan kenikmatan dunia dan
ketertarikan dengan apa-apa yang dimiliki oleh kebanyakan orang, sebagai faktor dominan yang
mendorongnya untuk membangun cinta dengan orang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
"Berzuhudlah dari kenikmatan dunia, nescaya Allah akan mencintaimu, dan berzuhudlah
dari apa-apa yang dimiliki oleh manusia, nescaya mereka mencintaimu. "45
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka
dengannya. Dan kurnia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal" (Thaha [20]: 131).

Banyak kisah dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing
merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika terngiur
dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Ada pula seorang yang dikenal baik hati, dapat menerima kurnia Allah seadanya, tulus
dalam bergaul dengan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba hatinya berubah setelah selalu membandingkan dirinya dengan orang yang diberi kelebihan kenikmatan dunia, matanya tertuju kepada pesona harta orang lain. Sementara dalam urusan agama, ia selalu melihat kepada yang lebih rendah kadar ketaatannya. Hatinya berubah bersamaan dengan berubahnya ketulusan
persahabatan yang terjalin dengan baik selama ini, perhatiannya tidak lagi tertuju kepada orang
yang lebih tinggi kadar ketaatan agamanya, seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Semakin jauh mencintai dunia, semakin pudar sifat itsar (iltruisme) pada dirinya dan lalai
akan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Seseorang di antara kamu tidak beriman (dengan sempurna) kecuali setelah mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya.”
Saat itu muncullah sifat egoisme dengan jargonnya 'nafsi-nafsi' (sendiri-sendiri).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara” (al-Hujurat [49]: 10).

Ukhuwah (persaudaraan) adalah tema yang paling indah untuk dijadikan wacana dan
bahan perbincangan di antara manusia secara jernih; ia halus bagai cahaya, manis, dan digemari
oleh semua kalangan. Namun, apa pengertian ukhuwah yang dinyatakan oleh al-Qur'an?
Dua anak manusia yang berjalan bersama dalam keadaan normal dan tenang, dengan
mudah dapat menjalin cinta! Mereka terus berjalan bergandingan dan tali-tali kasih sudah terajut mengikat keduanya. Namun tidak demikian halnya ketika jalan yang ditempuh mulai menyempit, dan hanya cukup untuk satu orang saja. Saat itu hati keduanya bertanya-tanya: siapa yang berjalan terlebih dahulu? Apakah aku atau saudaraku, sementara aku di belakangnya? Keadaan semakin memburuk ketika jalan semakin menyempit dan terjal, hanya satu orang yang boleh melanjutkan perjalanan, sementara yang lain harus tertinggal! Hanya ada satu peluang yang ada di antara aku dan saudaraku, lantas siapa yang harus kudahulukan? Akankah kukatakan: inilah kesempatan emasku, biarkan ia mencari kesempatannya sendiri? Atau kukatakan kepadanya: ambillah kesempatan ini, biar kucari kesempatan untuk diriku?

Itulah bisikan-bisikan yang menggelitik.
Ukhuwah yang terjalin dalam keadaan normal dan aman tidak menuntut apa pun atau
menuntut hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan pribadi. Ukhuwah dalam keadaan
tersebut merupakan kesenangan yang didambakan oleh setiap manusia agar memperoleh
ketenangan jiwa ketika mampu mewujudkannya.

Namun dalam keadaan sulit, ketika rasa tamak mencuat, ukhuwah diuji dengan ujian yang
berat. Di sinilah altruisme dan cinta dapat dibedakan dari egoisme dan serakah, yang terkadang
tidak disedari oleh seseorang ketika dalam keadaan normal dan menganggap dirinya sebagai
sahabat setia yang memenuhi segala tuntutan ukhuwah.

Berapa banyak halaqah, pelajaran, nasihat, dan saran yang diperlukan oleh individu,
kelompok dan basis komunitas agar makna luhur ukhuwah tertanam dalam diri mereka, sehingga tidak sekadar menjadi kebenaran teoretis dan berhenti pada nalar rasional, melainkan
berkembang menjadi keyakinan nurani dan terimplementasi dalam perilaku nyata,47 seperti yang dinyatakan dalam al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada
mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (kalangan Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kalangan
Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat memerlukan (apa yang
mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung" (al-Hasyr [59]: 9).


LALAI MENJALANKAN IBADAH
DAN MELANGGAR TUNTUNAN AGAMA

Sejauh mana kadar takwa dan kebaikan yang anda lihat dari saudararnu, sejauh itulah
tulusnya cinta dan persahabatan yang anda berikan padanya. Sejauh mana tingkat dzikir, ibadah, peringatan akan akhirat, perhatian terhadap ketaatan kepada Allah, dan dakwah di jalan-Nya yang memenuhi nuansa persahabatan dan pertemanan, sejauh itulah eratnya persabatan dan jalinan cinta yang terjalin di antara keduanya.

Namun jika hubungan persahabatan kering dari makna-makna dzikir, ibadah, saling
menasihati, mengingatkan perihal akhirat dan mendorong semangat dakwah, maka kegersangan
ukhuwah akan semakin terasa, lalu beralih menjadi permainan (lagha) dan perdebatan sia-sia.
Hati bertambah keras dan cepat bosan, sementara lagha (perkataan dan perbuatan sia-sia)
membuka gerbang keru-sakan dan perselisihan, yang pada akhirnya terjelmalah dosa sebagai
dinding pemisah yang memburaikan ikatan ukhuwah dan memisahkan dua sahabat. Dalam
sebuah hadith shahih, Rasulullah shallallahu. 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali
disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.”

Dosa yang dilakukan tersebut tidak semestinya berhubungan dengan saudaramu, namun
bentuk dosa apa pun yang dilakukan oleh seseorang dapat menjadi faktor hilangnya seluruh
kawan dekat dan saudaranya satu demi satu. Misalnya dosa yang berhubungan dengan masalah
kewangan, lantaran meninggalkan kewajiban, perbuatan tidak terpuji, mengucapkan kata-kata
jelek, ghibah, menjatuhkan wibawa dan kepribadian orang lain, memperolok-olok, dan berbagai
perbuatan maksiat lainnya.

Dosa kerana perbuatan-perbuatan maksiat di atas dapat mengakibatkan hilangnya rasa
cinta dan ukhuwah, baik secara langsung mahupun tidak langsung - sebagai balasan atas maksiat,yaitu dengan hilangnya sahabat-sahabat yang mencintaimu. Sebagai contoh, sahabatmu merasa jika berdekatan denganmu akan menggiringnya ke dalam maksiat, diam dengan kemungkaran, lebih mengingatkan perihal duniawi dan melupakan dzikir serta akhirat, lalai beribadah, dan menjauhkan dari kegiatan-kegiatan dakwah. Dengan alasan-alasan tersebut, rasa cintanya semakin terkikis dan lebih menyukai bergaul dengan orang lain.

Sesungguhnya kelebihan hubungan ukhuwah kerana Allah adalah kerana yang terlibat di
dalamnya senantiasa mengingatkan masalah-masalah akhirat, seperti yang dinyatakan oleh al-Hasan rahimahullah: "Sahabat lebih kami cintai daripada keluarga sendiri, kerana sahabat mengingatkan
kita akan akhirat, sedang keluarga mengingatkan kita akan dunia."

Dengan demikian, jika seorang sahabat cenderung mengingatkanmu dengan masalahmasalah
duniawi, kelebihan apa lagi yang masih tersisa darinya? Untuk itu, jika engkau ingin
memiliki sahabat-sahabat yang menghargai dan menghormatimu, hendaklah engkau mulai dengan memperbaiki hubunganmu dengan Allah, komitmen dengan ketentuan syari'at dan hukum-hukum-Nya, jauhkan dirimu dari maksiat dan dosa. 'Seorang bijak berkata: "Barangsiapa yang menghendaki kemuiliaan tanpa keluarga, kaya tanpa harta, kedudukan di antara sahabat, wibawa di mata penguasa, maka hendaknya ia mampu membebaskan diri dari belenggu maksiat menuju taat kepada Allah."

Di antara bentuk pelanggaran syari'at yang dapat menghancurkan cinta imani, bahkan
dapat mengakibatkan permusuhan adalah mahabbah syaitaniyyah (cinta yang didorong oleh
nafsu syaitan). Hal ini dapat terjadi jika hubungan yang terjalin antara dua insan berjalan tidak
wajar dan membawanya dalam keadaan yang serba tidak menentu, khawatir dan lemah, sehingga ketika dalam shalat pun ia masih mengingat dan merasakan kehadirannya. Ia tidak suka apabila sahabatnya berkenalan dengan orang lain atau bergaul dengan orang lain, benci dengan setiap orang yang mahu menjalin hubungan dengannya, bahkan mungkin beberapa kawannya merasa dirugikan oleh keberadaannya, kecemburuan yang muncul kepadanya seakan-akan kecemburuan terhadap istrinya sendiri.

Model cinta seperti itu bukanlah cinta imani, melainkan cinta syaitan atau nafsu syahwat
yang lebih mendekati al-'isyq (cinta kerana nafsu), yang dibangun atas dasar keakraban belaka,
penampilan luar, paras muka, dan semisalnya. Cinta seperti ini justru akan menjerumuskan ke
dalam kenistaan, permusuhan, dan sikap saling menjauhi. Kerana segala sesuatu yang tidak
dibangun kerana Allah akan terputus, namun jika kerana Allah akan tetap kekal dan bersambung.

Sebagaimana keindahan rupa tidak menjamin kebaikan dirinya.
jangan terpedaya dengan keelokan rupa
sungguh banyak wanita cantik yang buruk pribadinya
tidak selamanya yang kuning mengkilap
adalah uang emas
kalajengking kuning
adalah jenis yang paling jelek dan berbahaya

Dzur-Rummah menjadikan air sebagai perumpamaan bagi orang yang baik lahirnya namun
jahat batinnya. Ia berujar:
tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya
walau warnanya tetap putih jernih

Suatu ketika, seorang bijak melihat orang yang sangat tampan. Lalu ia berkata: "Memang,
rumah itu indah, tapi penghuninya jelek." Jahzhah, seorang sastrawan Arab kemiidian mengambil makna ungkapan tersebut dalam bail puisinya:
seringkali perbedaan itu nampak jelas sekali
antara rumah indah namun pikiran rosak

Adapun cinta imani membawa ketenteraman dan kedaimaian, terus mendorong untuk taat
dan mendekatkan diri dengan Allah, ia bertambah kukuh dengan ketaatan sahabat yang dicintai
kepada Allah, dan berkurang kerana kelalaiannya atas hak-hak Allah Subhanahu waTa'ala. Suatu hal yang mesti diperhatikan, walaupun ukhuwah begitu penting dan memiliki berbagai dampak positif, namun Islam senantiasa menganjurkan untuk memposisikan segala sesuatu dalam kerangka yang seimbang. Sikap berlebihan (ekstrem) tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun, ia merupakan sikap abnormal yang dapat menjerumuskan ke dalam kenistaan dan kelalaian.

Setiap hamba mesti membangun amalannya di atas ketulusan kerana Allah. Cubalah
berintrospeksi, siapa pun yang hidup di dunia ini tidak dapaf menyelamatkan Anda, paras yang
elok rupawan tidak akan menjadi penolong bagi diri Anda, bahkan pemiliknya sekalipun. Semua
akan sirna, keindahan rupa akan berubah menjadi pemandangan yang menjijikkan setelah
terkubur, dan menjadi santapan ulat-ulat kuburan.
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (ar-Rahman [55]: 26-27).
Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahawa jika Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu sedang
berusaha mengawal hatinya, ia mendatangi reruntuhan bangunan tua, berdiri di depan pintu dan
memanggil dengan suara memelas penuh duka: "Di mana-kah penghunimu?" Lalu Ibnu Umar
berbisik pada diri sendiri:
"Tiap sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (Allah)" (al-Qashash [28]: 88).

Hati para da'i harus senantiasa menjadi wahana untuk beribadah, di dalamnya mereka
tidak menyembah selain Allah. Mereka mesti berhati-hati agar tidak terjerat syirik, kerana
gerakannya terlalu halus namun dampaknya sangat besar. Hendaknya mereka terus mengingat
ucapan seorang shalih yang waktu itu sudah berumur enam puluh tahun: "Aku selalu menjaga
pintu hatiku selama empat puluh tahun agar tidak ada yang dapat masuk ke dalamnya kecuali
Allah."

Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan islami) adalah hubungan alami sesuai dengan fitrah
yang tidak menyimpang menjadi nafsu berahi, dan tidak pula menjadikan seseorang tergila-gila,
bahkan tidak sampai pada batas di mana pribadi seseorang lebur dalam diri sahabatnya. Kerana
jika sampai pada derajat ini, ukhuwah sudah kehilangan keseimbangan dan keluar dari kaidah
syari'at, terkontaminasi—baik disengaja atau tidak—oleh berbagai perasaan dan dorongan
manusiawi yang amat halus dan terselubung. Namun perjalanan waktu akan menyingkap tabir itu dan menampakkan kenyataan yang selama ini ditutupi.

Orang bijak adalah yang cepat bergerak sebelum terlambat, seperti orang yang berjalan di
tepi jurang, nyaris terjerumus ke dalam dasarnya yang dalam. Sungguh beruntung seseorang
yang mengetahui batas-batas syari'at lain berupaya teguh dalam melaksanakannya, dan
mengetahui batas-batas dirinya lalu berpijak pada apa yang ada dalam dirinya itu.
Oleh kerana itu, hendaknya setiap insan yang menjalin hubungan persahabatan kerana
Allah, selalu menanamkan nilai takwa dalam setiap bisikan hatinya, membangun tali ukhuwah
sesuai dengan pandangan dan konsep ajaran Islam, jujur dengan diri sendiri, mengikat naluri
dengan rasio, dan menerangi rasio dengan petunjuk Islam. Jangan memandang sebelah mata
terhadap dosa-dosa kecil, kerana ia merupakan jalan menuju dosa-dosa besar.

Adakalanya, nafsu jahat memberi rangsangan kepada seseorang dengan melihat sahabat
dekatnya dengan penuh rasa kagum dan suka. Begitu juga sebaliknya, ia menerjemahkan setiap
gerak-gerik sebagai bagian dari perasaan tersebut, juga dengan pandangan mata dan berbagai
rangsangan atau imaginasi lainnya. Semua itu merupakan khayalan yang timbul akibat rasa suka
yang berlebihan, penyakit hati, dan seluruh perasaan-perasaan yang menyimpang. Sementara
syaitan tidak menyia-nyiakan peluang sekecil apa pun untuk mempertajam dan memperbesar
khayalan-khayalan semacam ini dalam diri manusia agar masuk dalam perangkapnya.
Ketika menerangkan berbagai macam hubungan yang mencerminkan ketertarikan
seseorang dengan sahabatnya, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhahullah menyatakan:
"Di antara bentuk-bentuk hubungan tersebut adalah hubungan maksiat—semoga Allah
melindungi kita darinya, di mana dua orang itu terikat hubungan maksiat sehingga keduanya
menyaksikan hal-hal yang haram, menikmatinya, dan melakukannya secara bersama-sama."

Bentuk lainnya adalah hubungan yang lebih berbahaya ketimbang bentuk hubungan yang
baru saja disebutkan, yaitu hubungan suka dan ketertarikan sehingga sampai pada satu titik di
mana ia mencintainya 'bersama' Allah dan bukan 'kerana' Allah. Dengan hubungan seperti ini, ia
sanggup mela-kukan beberapa amalan 'ibadah' untuk orang yang dicintainya. Masalah ini muncul disebabkan oleh banyak faktor yang pada tahap awalnya nampak sederhana, namun kemudian berkembang dan membesar, sehingga kedua orang tersebut atau salah satu di antara mereka, sama sekali tidak sanggup berpisah, ia harus selalu bersamanya, melihatnya, dan berhubungan dengannya melalui telepon, yang terkadang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari. Dan yang lebih berat dari itu, ia memikirkannya dalam shalat, ketika bacaannya sampai pada firman Allah:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon
pertolongan" (al-Fatihah [1]: 5).

Pikirannya menerawang bersama sahabat yang dicintainya; bak udara yang dihirup
olehnya, jika kehilangan walau hanya sesaat, ia merasakan sakit yang teramat dahsyat kerana
perpisahan itu. Dan sakit itu baru reda bila ia bertemu kembali dengannya. Hubungan
ketertarikan yang maha dahsyat ini memiliki beberapa derajat yang berbeda, yang sebagiannya
dapat dikategorikan dalam ghuluw (ekstrem) yang berakhir pada syirik akbar.
Beberapa orang memungkiri hal ini dan bertanya: "Bagaimana hal tersebut boleh
terjadi?" Namun saya katakan: ini ada-lah fakta! Dalam konteks ini, kita kembali kepada
pengertian hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah." Beliau tidak mengatakan Agar mencintai seseorang (langsung) kerana Allah, kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Alim, Tahu bahawa antara sesama
manusia dapat tumbuh hubungan yang tidak legal dan terkadang sangat kuat. Sementara syaitan mengelabui manusia seakan-akan hubungan tersebut adalah wujud ukhuwah kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian.

Kadang kala syaitan juga menghiasi hubungan tersebut dengan beberapa amalan ibadah
yang dikerjakan bersama, namun sebenarnya tidak terlepas dari nafsu yang dilarang oleh syari'at. Dengan alasan menghindari kritikan pihak lain atau menyakiti perasaan, seorang di antara mereka mengajak sahabatnya: "Bagaimana jika kita membaca buku bersama? Mendengar kaset? Menghafal al-Qur'an? Tahajjud bersama?"

Mereka berdua melaksanakan program bersama tersebut untuk beberapa saat lamanya
atau dalam waktu-waktu tertentu, namun hakikat amalan tersebut tidak termasuk ukhuwah
kerana Allah, melainkan masing-masing mencuba untuk bertahan menipu diri sendiri atau
menampakkan diri di depan orang-orang lain bahawa hubungan tersebut merupakan ukhuwah
kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian. Bahkan, jika keduanya duduk bersama
membaca al-Qur'an, masing-masing memikirkan sahabatnya dan sama sekali tidak mengerti apa yang dibaca, demikian seterusnya. "Kemudian, apa yang dapat menyingkap tabir penyamaran tersebut sehingga nampak bentuk sebenarnya, dan dapat menjelaskannya secara gamblang?

Jawabannya adalah penggalan dari hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tadi,
yaitu sabdanya: "Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah..." Ia
menggunakan ungkapan pembatas yang paling kuat, kerana masalah ini merupakan fakta yang
terjadi di kalangan manusia, yaitu masalah hubungan yang terjalin bukan kerana Allah, yang
cenderung menghancurkan kehidupan individu, bahkan merugikan kelompok atau jama'ah Islam secara keseluruhan, kerana hubungan tersebut merupakan penyakit menular yang harus
ditanggulangi oleh semua pihak.

Ibnul-Qayyim rahimahullah menyinggung masalah ini dalam karya monumentalnya, al-
Jawab al-Kafi. Kitab ini merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya,
sebagaimana yang dapat diketahui dari Muqaddi-mah-nya... "Suatu musibah yang menimpa
seseorang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa dan menghancurkan dunia serta akhiratnya..."

Kitab tersebut merupakan karya penting guna menangani masalah al-'isgq wat-ta'alluq (rasa
cinta dan suka yang berlebihan), sebuah masalah yang pernah ditanya-kan kepada Ibnul-Qayyimrahimahullah dan ia menjawabnya seperti berikut. Di sini, kita dapat melihat metode para ulama, yaitu ketika Ibnul-Qayyim memberi jawaban kepada penanya: "Berserah dirilah kepada Allah, berdoalah pada waktu-waktu terkabulnya doa." Kemudian Ibnul-Qayyim memberinya doa-doa ma'tsur (berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan sunnah), mengajarinya tentang Asma Allah yang paling agung, dan faktor-faktor yang dapat membantu diperkenankannya permohonan dan terkabulnya doa. Setelah itu, ia juga menerangkan bahaya dosa dan maksiat, dan menegaskan kepada penanya, jika telah mengetahui bahaya perbuatan tersebut hendaklah ia mempertimbangkannya dengan akal sehat dan menjauhinya.

Ibnul-Qayyim memberikan keterangan yang luar biasa mengenai bahaya dosa, menceritakan kisah kaum Nabi Luth 'alaihissalam dan hukuman yang mereka terima dari Allah Subhanahn wa Ta'ala, kerana masalah ini dapat mendorong kepada perbuatan keji tersebut. Ketika seseorang membaca, terkadang tidak dapat memahami makna uraian Ibnul-Qayyim dengan baik. Namun setelah meinbacanya berkalikali, akan terrlihat dengan jelas metodologi dan sinergi uraian tersebut, juga peristiwa-peristiwa yang terjadi, oraug orangyang mengakhiri hayatnya dengan su'ul khatimah (dalam keadaan buruk) , sebagian mereka mati dalain keadaan tergila-gila dengan harta, wanita, sahabat, kedudukan, dan seterusnya.

Metode Ibnul-Qayyim tersebut semestinya tidak hanya di gunakan untuk mengatasi
masalah al-‘isyq dan at-ta’alluq saja, namun Ibnul-Qayyim juga memiliki beberapa kerangka
solusi yang cukup handal unluk mengatasi masalah ini. Ia berkata, "Jika penyelesaian masalah
ini menuntut seseorang untuk meninggalkan sahabatnya, dengan cara berhijrah ke negeri lain
sehingga tidak lagi menjumpainya, mengetahui beritanya, terbebas dari perasaan yang mengikat
dan pengaruhnya, maka hendaknya ia menempuh cara ini agar dapat menyelamatkan agamanya."

Dari pernyataan di atas, anda mengetahui bahawa para ulama yang ikhlas dan memiliki
perhatian atas realiti mampu mengetengahkan kerangka solusi yang sangat kuat, mengakar dan
komplementer. Berbeda dengan berbagai solusi yang serampangan untuk mengatasi
permasalahan yang terkadang jauh lebih besar dari masalah yang pernah ada sebelumnya.
Kita sangat memerlukan perhatian dan pengetahuan yang jauh lebih besar dengan
didasari oleh keikhlasan agar dapat mengatasi seluruh masalah yang dihadapi, dan dapat
membentuk komunitas sosial islami yang bersih serta terhindar dari noda. Jika tidak, bagaimana
mungkin Allah akan menolong suatu kaum yang tertusuk oleh panah-panah syaitan di seluruh
tubuhnya.

Tujuan huraian di atas adalah untuk menyalakan bahawa hubungan nafsu, yakni
hubungan al-'isyq, merupakan bagian dari dosa dan pelanggaran terhadap batasan syari'at yang
dapat menghancurkan ukhuwah, dalambentuk perpecahan diantara mereka sebagai hukuman
Allah atas dosa tersebut; atau dengan tidak bersambutnya harapan orang tersebut dari
sahabatnya. Sehingga lantaran kegagalan ini, ia menjauhi sahabatnya dengan penuh amarah dan
kecewa; atau jika sahabatnya merasa bahawa cinta orang tersebut tidak murni kerana Allah,
terkontaminasi dengan keinginan tertentu atau perasaan yang menyimpang, maka ia akan
membencinya, lalu menjauhinya dan lebih memilih bergaul dengan orang lain.

Maka hati-hatilah saudaraku! Jangan sampai hubunganmu ternoda. Berhati-hatilah ketika
seseorang mencintaimu kerana Allah, sementara Allah murka kepadamu. Hanya Dia-lah yang
mengetahui segalanya:
"Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa-apa yang disembunyikan oleh
hati" (al-Mukmin [40]: 19).
Di antara doa yang sering diucapkan oleh Muhammad bin Wasi' rahimahullah adalah:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar terhindari dari mencintai kerana-Mu, sementara
Engkau benci atau murka kepadaku."

Sufyan berkata, “Ada ujaran-ujaran yang mengatakan: jika kamu mengetahui dirimu sendiri,
tuduhan apa pun tidak akan membahayakanmu.”

Malulah kepada Allah, janganlah terpedaya dengan pujian, tipuan, dan kelancungan orang
lain melalui hubungan palsunya denganmu. Hati-hati pula dengan ketertutupan aibmu, kerana
memang Allah menutupnya. Segeralah bertaubat kepada-Nya dari semua dosa sebelum tabirmu
tersingkap atau Allah akan menanam kebencian di dalam hati orang-orang yang mencintaimu.

*diolah dari kitab virus-virus ukhwah karangan Abu 'Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah

Friday, April 24, 2009

SEKUNTUM ROSELA PELIPUR LARA - IMAN SAMUDRA



Sekuntum Rosela Pelipur Lara, merupakan catatan renungan Iman Samudra selama berada di Nusakambangan. Ditulis dalam keterbatasan di balik jeruji besi namun tanpa kehilangan elan vital sebagai pejuang. Sebuah furqon [pembeda] antara yang haq dan yang Bathil, diungkap dengan tuntas. Buku ini lebih tepat dikatakan sebagai buku pedoman, terlahir sebagai bagian perjuangan terakhir sang mujahid.

Kematianya bukan kemuncak kehidupan . Meyahut panggilan illahi dengan senyuaman yang tidak putus walau roh berpisah dari badan.Risiko para mujahid sangat tinggi dan ianya puncak perjuangan.

Tapi keyakinan telah mengatasi segalanya .Syahid itu tidak mati atau tidak berhenti dan ianya akan berlansung hingga kiamat.

Pilihan untuk syahid adalah angan semua umat Islam, tapi untuk melaksanakan bukanlah seperti satu acara lumba lari kerana pecutan orang untuk menamatkan seluruh denyut nadinya dengan sasaran syahid adalah mudah tapi kekuatan untuk pertarungan itu sukar kerana antara nikmat dunia yg jadi penghalang utama dengan kesanggupan untuk kita zuhud , sanggup berjuang demi agama dan sanggup lakukan apa sahaja serta menerima hukuman adalah halangan yang sangat besar hingga membuat umat Islam rasa tersangat sukar serta sering mundur.

Ramai yang tersungkur hanya kerana tersepak batu dunia sahaja dan rasa ngilu di kakinya membuat dia bosan dan muak dengan laungan berjuang ke jalan Allah , lagi senang mati kerana makan atau kerana harta.

Di manakah tempatmu rosella ? sudah tamatkah perjuanganmu? tidak! insayallah akan banyak lagi rosella itu buat wangian di syurga.

Data buku
JUDUL: Sekuntum Rosela Pelipur Lara

PENULIS: Imam Samudra

PENERBIT: Ar Rahmah Media. Bintaro Jakarta Selatan. Telp: 021 68884 1087. E-mail: info@arrahmah.com website : http://www.arrahmah.com/

ISBN: 978-979-15248-3-4

TEBAL: 188 hlm

CETAKAN : I-Januari 2009 Muharram 1430

Thursday, December 18, 2008

TSAQAFAH DAN MUWASOFAT NUQABA'


Penguasaan nuqaba' terhadap cabang ilmu yang menjadi latar belakang dakwah dan tarbiyyah merupakan satu perkara yang amat penting dan menjadi landasan utama kepercayaan anggota usrah terhadap naqib mereka.

Para nuqaba mesti mengetahui dan meyakini bahawa apabila saf pimpinan memberikan tanggungjawab kepada mereka untuk mengetuai usrah, hal itu merupakan satu kepercayaan yang besar. Oleh itu mereka hendaklah memiliki keyakinan diri dan tidak teragak-agak untuk melaksanakan tanggungjawab itu.

Untuk itu mereka mesti mempunyai kekuatan tsaqafah dan keperibadian. Mereka mesti tidak boleh dikalahkan oleh tekanan keilmuan yang cetek, lantaran mereka sebenarnya telah memiliki ilmu. Mereka mesti menyedari bahawa bidang pengajian dan takhassus mereka sebenarnya boleh diolah untuk manfaat usrah dan dakwah. Oleh itu, mereka hendaklah mempelajari kemahiran dan teknik memanfaatkan kepakaran dalam bidang pengajian untuk kepentingan dakwah mereka.

TSAQAFAH NUQABA'

Berikut disenaraikan beberapa rujukan bagi membantu mengatasi masalah ketidakyakinan kepada diri sendiri untuk mengendalikan usrah.

Al-Qur'an ... Naqib hendaklah tahu bacaan al-Qur'an yang betul. Mereka hendaklah mengetahui hukum tajwid yang minimum. Mereka sendiri hendaklah khatam al-Qur'an sekurang-kurangnya dua kali setahun.

Tafsir al-Qur'an ... Naqib hendaklah mengetahui asas penghantar kepada al-Qur'an. Mereka bolehlah merujuk kepada buku Kunci Mengenal al-Qur'an tulisan Zulkifli Hj.Yusoff.
Mereka juga perlu merujuk buku-buku tafsir yang lengkap huraiannya terhadap isi al- Qur'an. Buku yang dicadangkan ialah Tafsir Al-Azhar oleh Allahyarham Hamka atau buku Abr Al-Athir karangan Ustaz Ahmad Sonhadji.

Al-Hadith ...Setidak-tidaknya mempelajari kitab Hadith 40. Naqib perlu mengetahui maklumat yang minimum tentang pengantar kepada ilmu al-hadith. Buku yang boleh dirujuk ialah Pengantar Ulum al-Hadith oleh Dr. Subhi Salih. Cuba merujuk setiap hadith kepada setiap kitab muktabar seperti Sunan Sittah. Kebanyakan buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan juga bahasa Inggeris.

Sirah Nabawi ... Naqib dapat meujuk Fiqh As-Sirah oleh Said Ramadhan al-Buti atau Fiqh Harakah oleh Abdul Hadi Awang. Juga buku terbaru TG Niks Abdul Aziz tentang Rasulullah SAW.

Aqidah ... Elakkan diri daripada membincangkan aspek akidah seperti ilmu kalam dan falsafah secara mendalam. Sebaliknya firqah-firqah atau mazhab dalam Islam hendaklah mereka ketahui.
Mereka boleh membuat rujukan kepada buku Aqidah Islamiyyah oleh Sayyid Sabiq atau buku Muqaddimah Aqidah Mukmin oleh Abdul Hadi Awang dan siri kitab-kitab aqidah ( Beriman..) yang ditulis oleh beliau.

Fiqh ... Mengetahui asas tarikh perkembangan hukum dalam Islam dan juga pengantar kepada ilmu fiqh. Sejarah Pembinaan Hukum oleh Dr. Mahmood Zuhdi Abd Majid boleh dijadikan bacaan Secara berterusan mempelajari kitab-kitab fiqh yang muktabar.

Tazkirah dan tazkiyyah an nafs ... Boleh rujuk kepada siri buku karangan Nik Abdul Aziz Nik Mat seperti Tazkiyyah Jiwa dan Nafsu, Air Mata di Mahsyar dan Mati: Satu Peringatan. Juga kitab Bidayatul Hidayah ( al Ghazali ).

Pembacaan terhadap sumber-sumber fiqh harakah merangkumi fiqh dakwah, fiqh tarbiyyah dan fiqh jihad dan siyasah mestilah dilakukan oleh para nuqaba.

Secara berterusan para nuqaba mestilah juga membaca akhbar harakah dan juga perkembangan politik semasa dari blog-blog yang tsiqah.

Apa-apa yang dinyatakan di atas merupakan sumber minimum yang seharusnya dikuasai oleh para nuqaba' bagi melancarkan perjalanan usrah mereka. Pada masa yang sama, mereka hendaklah memiliki penguasaan dalam bidang ilmu dan alat yang lain seperti kenderaan dan ICT.

MUWASOFAT (CIRI-CIRI) NUQABA’

1. Mempunyai kadar minima tsaqafah nuqaba dan sentiasa mempertingkatkannya.
2. Memiliki keperibadian(syakhsiyyah) nuqaba' dan boleh menjadi qudwah yang baik.
- ibadah fardi
- akhlaq dan keterampilan
- public relationship (PR) yang baik
- interpersonal skill
3. Ada kemahiran tarbawiyah dan da'wiyyah:
- usul dan tarkiz tarbawiyyah
- usul dakwah
- isti'ab dakwah
- pengendalian usrah berkesan
4. Ada kemahiran qiyadiyyah.
- menguasai ahli dengan wahdatul fikr dan amal
5. Ada kemahiran jama'iyyah.
- amal jama’iy
- amal ijtima’iy
6. Ada kemahiran tanzimiyyah.
- pengurusan organisasi

Kelihatannya begitu sukar untuk mencari nuqaba’ yang memiliki ciri-ciri di atas. Namun itulah hakikat yang perlu dimengerti oleh mereka. Justeru itu, rekrumen nuqaba adalah satu ‘core business’ yang perlu diambil berat oleh jamaah.

Wallahu a’lam.


*Dari sahabat...Oleh Pengerusi Balai Islam ASTAR

Wednesday, May 28, 2008

JANGAN BERI SOKONGAN TERHADAP GOLONGAN YANG ZALIM

Oleh : Ustaz Abdul Ghani Shamsudin
Monday, 03 March 2008

Allah berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kalian (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan bagi (faedah) umat manusia umumnya, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang segenap perkara yang salah (buruk dan keji), di samping kamu beriman kepada Allah (dengan keimanan yang sebenar). Dan seandainya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu lebih baik untuk mereka. (Tetapi sayang) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.


Pendahuluan

Umat Islam menjadi umat terbaik di sisi Allah kerana mereka menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran di samping mereka beriman kepada Allah.(Ali Imran 110) Dengan perkataan lain kerana mereka menjadi pengikut ajaran Islam yang syumul dan merangkum berbagai aspek kehidupan. Mereka menegakkan keadilan dalam diri, dalam keluarga , bangsa dan negara. Mereka menjadi saksi tentang kehadiran rahmat Allah kepada semua manusia melalui penampilan ajaran yang paling bertamadun iaitu ajaran Islam. Mereka golongan yang sentiasa menjauhkan diri dari kejahatan dan kemunkaran justeru kemunkaran menjatuhkan martabat dan maruah sesuatu bangsa dan umat

Kemunkaran yang paling lumrah adalah melakukan kezaliman , merampas hak orang ramai atau rakyat , menafikan kebenaran , menghalang dakwah Islamiah dan menurut ajaran ajaran bid’ah dan palsu dalam politik dan budaya, memanjarakan rakyat tanpa pengadilan dan sabit kesalahan, merampas kedaulatan rakyat dengan penipuan dalam pilihanraya umum dan lain-lain . Semua perbuatan tersebut iadalah merupakan perbuatan aniaya yang mesti dihindari oleh orang Islam. Ini kerana kezaliman itu seperti mana yang dinyatakan oleh Rasulullah ialah kegelapan pada hari kiamat kelak. Baginda bersabda: Hindarilah kezaliman kerana kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat kelak. Hindari sifat kikir kerana sifat bakhil tersebut telah memusnahkan orang-orang sebelum kamu; sehingga tergamak mereka menumpahkan darah sesama sendiri dan menghalalkan kehormatan (menceroboh) sesama sendiri.. (Hadith riwayat Muslim)

Bencana Kezaliman

Kezaliman mencelakakan negara dan masyarakat. Kejahatan kezaliman ini bukan hanya mencelakakan penzalim di akhirat malah boleh membinasakan diri , keluarga ,negara dan masyarakat. Allah berfirman dalam Surah al Kahfi ayat 59:

وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا

Perkampungan (negara ) berkenaan Kami musnahkan apabila penghuninya bersikap zalim dan kami tempah masa kemusnahan (dan kehancuran) mereka.

Kezaliman pemerintah atau kerajaan adalah kezaliman yang dilembagakan dalam institusi keadilan yang zalim, undang-undang yang memperkasa kejahatan dan kezaliman, pehak keselamatan yang lebih membawa kesengsaran daripada keselamatan, jentera penerangan yang lebih menyesat, menggelapkan kebenaran serta mengelirukan berbanding memberi penerangan dan kefahaman kepada rakyat.

Kezaliman seperti ini lebih cepat membawa kehancuran kepada sesuatu bangsa, negara dan umat.

Kezaliman mengundang kutukan Allah.

Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 18:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِبًا أُوْلَـئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأَشْهَادُ هَـؤُلاء الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Siapakah yang lebih zalim daripada golongan yang mengajukan pembohongan terhadap Allah. . Ketika golongan tersebut dipaparkan di hadapan Tuhan mereka (untuk di adili kelak) berkatalah para saksi bahawa mereka itu adalah golongan yang melakukan pendustaan terhadap Tuhan mereka. Memang sesungguhnya laknat dan kutukan Allah terhadap golongan penzalim.

Surah al-A’raf ayat 44

وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَن قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالُواْ نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَن لَّعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Penghuni syurga berkata kepada penghuni neraka; bahawa kami telahpun menerima habuan yang dijanjikan oleh Tuhan kami kepada kami sebagai suatu yang memang benar . (kemudian mereka bertanya kepada penghuni neraka) adakah kalian juga mendapati benar apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian. Mereka pun menjawab; ya memang benar. Maka (ketika itu) berkemundang suara penyeru bahawa laknat dan kutukan Allah terhadap golongan yang zalim

Kezaliman mencelakakan manusia lain yang menghadiri atau menyaksikannya.

Bencana kezaliman ialah ia boleh melampaui peribadi orang yang zalim yang melakukan kezaliman berkenaan. Bencana dan akibat kezaliman itu juga mengenai orang yang hadir menyaksikannya dan tidak menghalang atau menyetujui kezaliman tersebut . Semua penyokong yang bersekongkol baik dekat mahupun jauh akan diseret dan dihumbankan ke neraka.

Dalam teks tradisional terdapat catitan berikut:

إذا وقفَ العبادُ على الصراطِ يومَ القيامةِ نادَى الله تعالى وقال: أنَا الله، أنَا الملك، أنا الديان، وعِزَّتي وجلالي لا يغادرُ هذا الصراطَ واحدٌ من الظالمين، ثم ينادِي ملَك من قِبَل الله تعالى فيقول: أينَ الظلَمَة؟ أين أعوانُ الظلَمَة؟ أين مَن برى لهم قلمًا؟ أين مَن ناولهم دَواةً؟ ثم تنادي جهنّمُ على المؤمنين فتقول: يا مؤمِن أسرع بالمرور عليَّ فإنَّ نورَك أطفأ ناري.

Apabila manusia dihimpunkan pada hari kiamat dipinggir titian Siratul Mustaqim Allah berfirman ; Akulah Allah, Akulah Raja (yang sebenar) Akulah Dayyan ( pemilik hakiki agama ini) ; demi kemulian dan kebesaranKu (pada hari ini ) tiada seorangpun manusia penzalim yang dapat melepasi siratulmustaqim ini. Kemudian berserulah seorang Malaikat di pehak Allah (bertanya); Mana dia manusia penzalim berkenaan.? Mana juak-juak penyokong penzalim tersebut. Mana dia pembantu yang menajamkan pena (pensil) penzalim. (wartawan upahan). Mana dia golongan yang mangajukan dakwat untuk penzalim (menulis ). Kemudian neraka berseru kepada orang mu’min: Wahai mukmin, ayoh segeralah kamu menyeberangi Sirat ini kerana cahaya mu memalapkan (nyalaan lidah) apiku

Suatu ketika seorang lelaki datang bertanya kepada Sufyan al Thauri: Saya ini penjahit pakaian raja (pemerintah ) yang zalim; adakah saya terjumlah dalam kalangan penyokong beliau. Sufyan al Thauri menjawab: Anda bukan golongan penyokong tapi adalah dari golongan penzalim itu sendiri . Golongan penyokong ialah orang yang menjual kepada anda jarum dan benang (untuk menjahit)

Sifat cenderong menyokong kezaliman dan orang yang zalim samada dengan hati atau dengan tindakan dan perkataan akan membawa padah.Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 113:

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

Jangan kalian cenderung menyokong orang yang zalim; kelak kalian akan dibakar oleh api neraka. (ketika itu) kalian tidak akan ada selain Allah sebagai penyelamat dan kalian tidak akan mendapat apa-apa pertolongan

Kezaliman mencelakakan manusia di akhirat.

Penzalim bukan sahaja diseksa dengan azab yang sangat pedih disamping lilitan kutukan Allah tetapi juga mereka tersisih daripada penyokong , sahabat dan penolong. Allah berfirman dalam Surah al Haj ayat 71

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُم بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

Mereka menyembah tuhan lain selain Allah yang tidak pernah Allah memberi apa-apa mandat kuasa mereka berbuat demikian malah mereka menyembah apa yang mereka sendiri tidak ada ilmu mengenainya. Sesungguhnya golongan penzalim itu tidak akan dapat sesiapapun menjadi penolong (mereka).

Allah berfirman dalam Surah Mariam ayat 68-72

فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا ثُمَّ لَنَنزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا وَإِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Demi Tuhanmu (wahai Muhammad) Kami akan himpunkan mereka semua dengan golongan syaitan dan akan Kami tampilkan mereka dengan melutut ditubir neraka. Kemudian Kami akan rentap (dan sentap) golongan penderhaka yang paling biadap terhadap tuhan yang Maha pemurah. Kemudian kami yang lebih tahu siapa yang lebih wajar dihumban dan dibakar di dalam neraka. Semua kamu pasti akan di bawa ke tubir berkenaan . Ini adalah ketentuan Tuhanmu yang azali dan pasti. Kemudian Kami akan selamatkan golongan yang bertaqwa (dari seksa neraka) dan kami akan biarkan manusia penzalim tersebut terbongkang di dalam neraka.

Kategori Penzalim

Kezaliman mempunyai berbagai kategori . Puncak kezaliman ialah perbuatan syirik kepada Allah sepertimana yang dinyatakan oleh Allah dalam Surah Luqman ayat 13:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ingatlah ketika Luqman berpesan kepada putra beliau dengan katanya : Janganlah kamu (wahai anakku) melakukan perbuatan syirik kepada Allah justeru syirik (kepada Allah ) adalah suatu kezaliman yang amat besar.

  1. Syirik adalah keyakinan dan perbuatan yang menduakan atau mempelbagaikan tuhan. Ia merujuk kepada perbuatan yang mencampurbaurkan rujukan nilai baik, buruk, halal haram kepada sumber yang hak dan benar dengan sumber yang batil dan salah. Halal haram ditentukan oleh Allah dan oleh syaitan dan taghut. Oleh itu manusia musyrik adalah manusia yang komitmen nilai mereka bercelaru , simpang prenang dan tidak menentu.. Pada ketika tertentu mereka menurut perintah Allah namun pada masa lain mereka menurut perintah dan nilai taghut dan syaitan.

Allah befirman dalam Surah al Nisa’ ayat 116:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik kepadaNya namun Dia mengampunkan dosa selain itu bagi siapa yang Dia mahu. Barang siapa yang syirik kepada Allah maka dia telah sesat terlalu jauh.

  1. Menghalang umat Islam daripada memakmurkan masjid Allah. Menghalang orang bersolat dengan merobohkan masjid dan surau, menghalang majlis-majlis ilmu yang disampaikan oleh para alim ulama yang benar di dalamnya. Menghalang orang berzikir dan beri’tikaf di dalam masjid. Menghalang perlaksanaan fungsi masjid dan surau di dalam negara sehingga melambatkan proses pentarbiahan dan pendidikan Islam di kalangan umat.

Dalam Surah al Baqarah ayat 114 Allah berfriman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Siapakah yang lebih zalim daripada golongan yang menghalang masjid-masjid Allah daripada disebut di dalamnya (zikir) terhadap nama Allah (solat) , malah mereka berusaha pula memusnahkan (fungsinya). Golongan penzalim tersebut hanya wajar masuk ke masjid dalam kaadan gentar dan takut. Untuk mereka kehinaan di dunia; manakala di akhirat disiapkan untuk mereka seksa yang sangat besar (dan pedih).

  1. Menyembunyikan kesaksian yang benar atau Katmu al Syahadah apabila diperlukan..Enggan mengajukan kesaksian di mana kebenaran terletak dalam kesaksian yang ada pada seseorang adalah suatu kezaliman. Keengganan menampilkan kesaksian yang benar menyelamatkan orang tertuduh yang tidak berdosa menyebabkan pelaku kejahatan yang sebenar terlepas manakala orang yang tidak berdosa dihukum bunuh atau dianiaya. Keeangganan tampil sebagai saksi kes sebenar yang menyaksikan kejahatan tersebut adalah suatu kezaliman yang nyata. Allah berfirman dalam Surah al Baqarah ayat 140:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Siapakah yang lebih zalim dari orang yang menyembunyikan syahadah (kesaksian) yang diberikan oleh Allah kepadanya . Sesungguhnya Allah tidak pernah alpa terhadap apa jua perbuatan (jahat) kamu.

Mengundi dalam sistem peralihan kuasa yang benar dan adil adalah suatu kewajipan agama. Ini kerana mengundi dan melantik pemimpin masyarakat dan negara adalah termasuk dalam kewajiban menunaikan kesaksian seperti yang termaktub dalam Surah al Talaq ayat 2 .

وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Tidak melaksanakan kewajipan ini adalah suatu kejahatan menyembunyikan kesaksian yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Malah golongan yang mati dan tidak pernah membai’ah atau mengundi dan melantik pemimpin adalah mati dalam jahiliah sepertimana yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadith baginda.:

ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية»،

”…Siapa yang mati tapi tidak pernah membai’ah pemimpin maka matinya adalah kematian dalam jahiliah.”[i]

Selanjutnya mengundi dan melantik orang yang tidak wajar dilantik menurut syara’ adalah juga suatu kejahatan menyembunyikan kesaksian yang benar sepertimana yang dituntut oleh ayat ini. Allah berfirman dalam Surah al Baqarah :283 :

وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ

Siapa yang menyembunyikan kesaksian (yang benar) maka dia adalah insan berdosa.

FirmanNya dalam surah al-Maidah ayat 106:

وَلاَ نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللّهِ إِنَّا إِذًا لَّمِنَ الآثِمِينَ

Kami tidak akan menyembunyikan kesaksian (kerana) Allah. (Kalau tidak) pastilah kami akan menjadi golongan yang berdosa.

Menjadi saksi palsu , menjungkir-balikkan kebenaran menjadi kebatilan; orang yang tidak berhak mendapat hak, manakala pemilik hak yang sebenar teraniaya adalah suatu kejahatan yang terangkum dalam perkara ini. Syahadatuzzur adalah suatu dosa besar dalam Islam.”Dosa besar yang paling besar ialah mengajukan kesaksian palsu (Hadith riwayat Bukhari)”Allah berfirman dalam Surah al-Zukhruf ayat 19

سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

Kesaksian mereka pasti akan dicatat dan mereka pasti akan ditanya (tentang kesaksian itu )

1. Tidak menghukum dan memerintah menurut hukum dan undang-undang yang Allah turunkan .

Menghukum dan memerintah tidak berdasarkan firman dan perintah Allah dalam syari’atNya adalah suatu kezaliman . Allah berfirman dalam Surah al Maidah ayat 45:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ

Siapa yang tidak menghukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dalam Negara umat Islam kini terdapat banyak pemerintah yang tidak melaksanakan syariat dan undang-undang Islam, tapi mereka mendakwa bahawa mereka adalah pelaksana Islam yang bertamadun , Islam progresif, Islam moden dan sebagainya . Dalam masa yang sama mereka mengkhianati amanah Allah, amanah umat dan mensia-siakan hak orang Islam yang mereka wakili. Ini adalah musibah yang mengelirukan ramai orang sehingga menyebabkan mereka menjadi penyokong fanatic kepada golongan zalim tersebut.

  1. Merampas tanah hak orang lain termasuk golongan fakir miskin dengan zalim demi kepentingan golongan kaya. Penyokong dan pendokong pembangkang selalu berhadapan dengan tindakan zalim pemerintah tertentu . Tanah dan hak mereka dirampas atau dilambat-lamatkan perlaksanaan kesan atau ketentuan transaksi yang telah dijalankan.

Rasulullah bersabda:

مَن اقتطع شبرًا من الأرض ظُلمًا طوَّقه الله إياه يوم القيامة من سبع أرَضِين))

Siapa yang merampas walau sejengkal tanah (orang lain) secara aniaya nescaya Allah akan menghempitkannya dengan tujuh lapis (petala) tanah atau bumi pada hari kiamat kelak.

Bantuan negara sering dinafikan untuk golongan penyokong pembangkang ini. Hak mengundi mereka dinafikan dengan penggubalan system pendaftaran pengundi yang bermuslihat.. Akibatnya berjuta-juta pengundi umat Islam tidak dapat ikut serta menunaikan kewajipan mereka membai’ah pemimpin sehingga berlaku kekurangan yang kritikal dalam nisbah majoriti umat Islam dalam negara Malaysia yang hanya tinggal 56%.. Apabila ditolak 3.9 juta pengundi muda Islam yang dinafikan hak mereka maka nisbah pengundi Islam mungkin menurun menjadi minority dari hanya sekitar 11 juta pengundi yang benar-benar layak dan berhak kini; menurut kenyatan SPR. Nisbah keseluruhan rakyat Malaysia yang berhak mengundi ialah 15.2 juta.

  1. Memenjara , menghukum bunuh dan meyiksa orang tahanan tanpa diadili dan tanpa sabit kesalahan adalah kezaliman yang nyata.

Pemerintah yang melakukan kezaliman dan tidak berlaku adil kepada rakyatnya akan diseksa oleh Allah dengan seksaan yang berat dan pedih.Rasulullah bersabda [ii]

اشد الناس عذابا يوم القيامة امام جائر

(ابو يعلى)

Orang yang paling dahsyat diseksa pada hari kiamat kelak ialah pemerintah yang zalim.” (Riwayat Abu Ya’la).

Dalam Musnad Imam al Rubai’ diriwayatkan hadith berikut [iii] :

لعن الله المسلط على امتي بالجبروت والمستأثر بفيئها

ِAllah melaknat orang yang memerintah umatku dengan zalim dan mengaut harta fai’ nya (harta milik awam) untuk kepentingan dirinya”

Kini berpuluh orang ditahan di bawah ISA tanpa dibicarakan atau diadili. Berjuta-juta ringgit dikaut oleh kroni dan keluarga penguasa secara terang-terang dan sembunyi. Kezaliman ini akan ditanggong oleh setiap orang yang menyokong dan mengundi kumpulan penzalim berkenaan untuk meneruskan kuasanya , walaupun mereka anak cucu nabi atau anak ulama tersohor..

Sebenarnya terdapat banyak lagi jenis kezaliman seperti kezaliman ekonomi terhadap umat Islam dan rakyat umum dari berbagai bangsa dan agama. Dalam jawapan PM terhadap tuntutan HINDRAF - baru-baru ini dinyatakan bahawa bangsa Melayu adalah bangsa yang lebih malang, miskin dan tidak terbela berbanding kaum India di Malaysia. Jawapan tersebut ditampilkan dengan peratus kemiskinan di kalangan orang Melayu yang lebih tinggi berbanding kaum India Demikianlah ; sungguh malang setelah sekian lama memerintah parti Melayu berkenaan masih gagal membela nasib umat Islam dan melayu di Malaysia.

Sebenarnya senarai jenis kezaliman ini akan menjadi panjang berjela-jela jika hendak direntang dengan panjang lebar . Namun dalam kesempatan ini kami paparkan sebahagian daripadanya untuk menimbulkan kesedaran di kalangan umat dan rakyat Malaysia umumnya.

Masanya sudah sampai untuk kita semua menamatkan era kezaliman ini dengan melantik golongan para pemimpin yang bertaqwa, beramanah, berintegriti dan ikhlas berjuang demi Allah untuk membela nasib rakyat termasuk umat Islam amnya dan juga rakyat Malaysia umumnya.

Mari kita beramai-ramai melakukan perubahan dalam pilihanraya yang akan datang. Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar.

24 Dec 07


[i] «من خلع يدًا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية»،

[ii] Lihat : Kitab Minhaj al Solihin oleh Syaikh ’Izzuddin Baliq , cetakan Darul Fikr , 1978 , Beirut hal 444

Kewajipan Menyertai Perjuangan Islam


Kewajipan Menyertai Perjuangan Islam

Oleh : Al-Fadhil Ustaz Abdul Ghani Samsudin
Rabu, 21 Jun 2006

Banyak orang Islam menyangka bahawa cukup sekadar mempunyai nama sebagai orang
Islam mengucap dua kalimah syahadat untuk menjadi seorang muslim yang diredhai
Allah. Anggapan ini tidak benar . Ini kerana untuk menjadi orang Islam seseorang itu
perlu memenuhi syarat syarat penting yang berkaitan dengan keimanan dan perbuatan
tertentu yang berkaitan dengan rukun iman, Islam dan jihad. Pengertian ini dapat kita
simpulkan dari firman Allah:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا یَدْخُلِ الْإِیمَانُ فِي 
قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِیعُوا اللَّھَ وَرَسُولَھُ لَا یَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَیْئًا إِنَّ اللَّھَ غَفُورٌ رَّحِیمٌ
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِینَ آمَنُوا بِاللَّھِ وَرَسُولِھِ ثُمَّ لَمْ یَرْتَابُوا وَجَاھَدُوا بِأَمْوَالِھِمْ 
وَأَنفُسِھِمْ فِي سَبِیلِ اللَّھِ أُوْلَئِكَ ھُمُ الصَّادِقُونَ
“Orang orang Arab badui itu berkata; kami sudah beriman, namun katakanlah kamu
belum beriman , Cuma katakanlah kamu baru masuk Islam dan iman belum (benar-benar
masuk) dalam hati kamu. dan (ingatlah), jika kamu taat kepada Allah RasulNya (zahir
dan batin), Allah tidak akan mengurangkan sedikitpun dari pahala amalanl kamu,
kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang
percaya kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak
ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan
Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya).”
Ertinya keimanan dan keislaman seseorang itu perlu dibuktikan dengan tekad dan usaha
perjuangan yang menunjukkan kesungguhan seseorang itu menjadi hamba Allah yang
mendaulatkan agamanya. Islam bukan sekadar beberapa kalimah yang dituturkan tapi
adalah suatu Iltizam dan komitmen yang lengkap dan menyeluruh terhadap ajaran Islam.


Sebab itu dalam Surah al Baqarah :208-209 terdapat ayat yang menegaskan:
یَا أَیُّھَا الَّذِینَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّیْطَانِ إِنَّھُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُّبِینٌ
فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَیِّنَاتُ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّھَ عَزِیزٌ حَكِیمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam (dengan
mematuhi) segala hukum-hukumnya dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan;
sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata.
Maka kalau kamu tergelincir (dan jatuh ke dalam kesalahan disebabkan tipu daya
Syaitan itu), sesudah datang bukti keterangan yang jelas kepada kamu, maka ketahuilah
bahawasanya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana…”.


Seorang muslim yang benar ialah orang yang memperjuangkan seluruh dimensi ajaran
Islam baik akidah, syariah, politik, ekonomi, pendidikan dan seterusnya.
Orang yang tidak mahu memperjuangkan politik Islam umpamanya, tidak mahu
menjadikan Islam landasan perjuangan politiknya adalah mereka yang terang-terang
mempunyai sikap bercanggah dengan perintah Allah dalam surah al Taubah ayat 38-41
یَا أَیُّھَا الَّذِینَ آمَنُواْ مَا لَكُمْ إِذَا قِیلَ لَكُمُ انفِرُواْ فِي سَبِیلِ اللّھِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ 
أَرَضِیتُم بِالْحَیَاةِ الدُّنْیَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَیَاةِ الدُّنْیَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ قَلِیلٌ
إِلاَّ تَنفِرُواْ یُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِیمًا وَیَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَیْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَیْئًا وَاللّھُ 
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِیرٌ
إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّھُ إِذْ أَخْرَجَھُ الَّذِینَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَیْنِ إِذْ ھُمَا فِي الْغَارِ 
إِذْ یَقُولُ لِصَاحِبِھِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّھَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّھُ سَكِینَتَھُ عَلَیْھِ وَأَیَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ
تَرَوْھَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِینَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّھِ ھِيَ الْعُلْیَا وَاللّھُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ
انْفِرُواْ خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاھِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِیلِ اللّھِ ذَلِكُمْ خَیْرٌ لَّكُمْ إِن 
كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
38.Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu:
Pergilah beramai-ramai berjuang di jalan Allah, kamu merasa keberatan (dan suka
tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka
dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) kerana
kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup)
di akhirat kelak.
[39] Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berjuang pada jalan Allah membela
agamaNya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya
dan Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan dapat
menggugat Allah sedikitpun . (ingatlah) Allah Maha Kuasa mengatasi segala-galanya.
[40] Mengapa kamu tidak mahu menyokongnya (Nabi Muhammad) pada hal Allah
sendiri telah menyokongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Mekah) mengeluarkannya (dari
negerinya Mekah) sedang dia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka
berlindung di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau
berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan rasa tenteram
dan damainya kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera
(malaikat) yang kamu tidak melihatnya . (Dalam masa yang sama ) Allah jadikan seruan
(dasar syirik) orang-orang kafir itu rendah dan hina . (Sebaliknya) Allah jadikan dasar
perjuanganNya (Islam) mulia dan tinggi Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
[41] Berangkatlah kalian beramai-ramai (untuk berjuang di jalan Allah), samada dalam
keadaan ringan (dan mudah bergerak) mahupun dalam keadaan berat (disebabkan
berbagai-bagai tanggungjawab) dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kalian di
jalan Allah (untuk membela Islam). Itu adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu
mengetahui.


Penganut agama Islam yang sebenarnya ialah mereka yang sedia berangkat dan keluar
berjuang untuk menegakkan cita-cita Islam dalam segala dimensinya yang mungkin.
Mereka tidak dihalang oleh kesempitan hidup atau dilalaikan oleh kesenangan
kebendaan. Mereka rela berkorban apa sahaja demi Allah dan Rasul. Mereka sedar
bahawa jika mereka tidak bingkas berjuang keimanan mereka akan dipersoalkan oleh
Allah dan amalan mereka menjadi sia-sia.


Pada zaman Rasulullah dahulu orang yang enggan berjihad dan enggan pergi berhijrah
bersama Rasulullah dihukum dengan hukuman yang berat . Allah berfirman dalam Surah
al Taubah ayat 81-90
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِھِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللّھِ وَكَرِھُواْ أَن یُجَاھِدُواْ بِأَمْوَالِھِمْ 
وَأَنفُسِھِمْ فِي سَبِیلِ اللّھِ وَقَالُواْ لاَ تَنفِرُواْ فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَھَنَّمَ أَشَدُّ حَ  را لَّوْ كَانُوا
یَفْقَھُونَ
فَلْیَضْحَكُواْ قَلِیلاً وَلْیَبْكُواْ كَثِیرًا جَزَاء بِمَا كَانُواْ یَكْسِبُونَ 
فَإِن رَّجَعَكَ اللّھُ إِلَى طَآئِفَةٍ مِّنْھُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُل لَّن تَخْرُجُواْ مَعِيَ أَبَدًا 
وَلَن تُقَاتِلُواْ مَعِيَ عَدُ  وا إِنَّكُمْ رَضِیتُم بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُواْ مَعَ الْخَالِفِینَ
وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْھُم مَّاتَ أَبَدًا وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ إِنَّھُمْ كَفَرُواْ بِاللّھِ وَرَسُولِھِ 
وَمَاتُواْ وَھُمْ فَاسِقُونَ
وَلاَ تُعْجِبْكَ أَمْوَالُھُمْ وَأَوْلاَدُھُمْ إِنَّمَا یُرِیدُ اللّھُ أَن یُعَذِّبَھُم بِھَا فِي الدُّنْیَا وَتَزْھَقَ 
أَنفُسُھُمْ وَھُمْ كَافِرُونَ
وَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُواْ بِاللّھِ وَجَاھِدُواْ مَعَ رَسُولِھِ اسْتَأْذَنَكَ أُوْلُواْ الطَّوْلِ 
مِنْھُمْ وَقَالُواْ ذَرْنَا نَكُن مَّعَ الْقَاعِدِینَ
رَضُواْ بِأَن یَكُونُواْ مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِھِمْ فَھُمْ لاَ یَفْقَھُونَ 
4
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِینَ آمَنُواْ مَعَھُ جَاھَدُواْ بِأَمْوَالِھِمْ وَأَنفُسِھِمْ وَأُوْلَئِكَ لَھُمُ 
الْخَیْرَاتُ وَأُوْلَئِكَ ھُمُ الْمُفْلِحُونَ
أَعَدَّ اللّھُ لَھُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِھَا الأَنْھَارُ خَالِدِینَ فِیھَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِیمُ 
وَجَاء الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الأَعْرَابِ لِیُؤْذَنَ لَھُمْ وَقَعَدَ الَّذِینَ كَذَبُواْ اللّھَ وَرَسُولَھُ 
سَیُصِیبُ الَّذِینَ كَفَرُواْ مِنْھُمْ عَذَابٌ أَلِیمٌ
Orang-orang (munafik) yang ditinggalkan di belakang (tidak ikut serta berjuang)
merasa seronok disebabkan mereka tinggal di belakang Rasulullah (di Madinah) dan
mereka tidak suka berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah;
malah mereka (menghasut pula dengan) berkata: Janganlah kalian semua keluar
(berperang) pada musim panas ini. Katakanlah (wahai Muhammad): "Api Neraka
Jahanam itu jauh lebih panas lagi, kalaulah mereka sedar.
Oleh itu biarkanlah mereka ketawa sedikit (di dunia ini); namun mereka akan menangis
banya kkelak (di akhirat), sebagai balasan terhadap apa yang mereka lakukan.
Maka jika Allah mengembalikan engkau kepada segolongan dari mereka (orang-orang
yang munafik itu di Madinah), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar
(ikut serta berperang), maka katakanlah: Kamu jangan sekali-kali keluar bersamasamaku
buat selama-lamanya dan kamu samasekali tidak akan memerangi musuh
bersama-samaku; justeru kamu dahulu telah rela tinggal duduk diam di belakang (tidak
ikut berjuang) pada kali yang pertama, oleh itu duduklah kamu bersama-sama orangorang
yang duduk (di belakang).
Dan janganlah engkau(wahai Muhammad) sembahyangkan seorang pun yang mati dari
kalangan mereka itu selama-lamanya dan janganlah pula engkau berdiri di (tepi)
kuburnya, kerana sesungguhnya mereka telah kufur kepada Allah dan RasulNya dan
mereka mati sedang mereka dalam keadaan fasik (derhaka).
Dan jangan pula engkau terpesona kepada harta benda dan anak-anak mereka, (kerana)
sesungguhnya Allah hanya hendak menyeksa mereka dengannya di dunia dan hendak
menjadikan nyawa mereka tercabut sedang mereka dalam keadaan kafir .
Dan apabila diturunkan satu surah Al-Quran (yang menyuruh mereka): "Berimanlah
kamu kepada Allah dan berjihadlah bersama-sama dengan RasulNya", nescaya orangorang
yang kaya di antara mereka meminta izin (berdalih) kepadamu dengan berkata:
Biarkanlah kami tinggal bersama-sama orang-orang yang tinggal ( di belakang ;tidak
turut berperang).
Mereka suka tinggal bersama-sama orang-orang yang ditinggalkan (kerana uzur), dan
(dengan sebab itu) hati mereka di sel mati , sehingga mereka tidak dapat memahami apaapa
lagi.
(Mereka tetap tidak ikut serta) tetapi Rasulullah dan orang-orang yang beriman
bersamanya, berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka dan mereka itulah orangorang
yang mendapat kebaikan dan mereka itulah juga yang berjaya.
Allah telah menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya anakanak
sungai, mereka kekal di dalamnya; yang demikian itulah kemenangan yang besar.
Dan (kemudian ) datanglah pula orang-orang yang menyatakan alasan keuzurannya
dari orang-orang A'rab, memohon supaya mereka diizinkan (tidak turut berperang),
sedang orang-orang (munafik di antara mereka) yang mendustakan Allah dan RasulNya,
duduk (mendiamkan diri). (Oleh itu) orang-orang yang kafir di antara mereka, akan
dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya.


Golongan mukmin pada zaman dahulu yang telah mengaku beriman tetapi enggan ikut
serta berjuang mendaulatkan Islam telah dihukum sebagai munafik dan kufur oleh Allah.
Allah melarang Nabi mendoakankan mereka dengan berdiri di tepi kubur mereka, Allah
melarang Nabi menyembahyangkan jenazahnya. Ini tentulah kerana perbuatan tidak ikut
serta berjuang menegakkan kedaulatan Islam sebagai suatu dosa besar yang
menghapuskan kekuasaan dan kemegahan Islam .


Sebab itu menjadi seorang muslim bermakna kita mesti iktu serta berusaha mengukuhkan
gerakan Islam , meramaikan bilangan mereka agar kita berjaya di dunia dan di akhirat.
Oleh sebab itu wahai saudara marilah kita bersama-sama dengan golongan ulama dan
cendikiawan ikut serta memperjuangkan Islam. Masuk menjadi ahli parti Islam
semalaysia yang diterajui oleh kalangan ulama dan cendikiawan Islam yang dikenali
ramai demi mendaulatkan ajaran dan syariat Allah di muka bumi ini . Kita tidak mahu
nanti dihukum oleh Allah S.W.T. seperti manusia manusia yang menyimpang dari
ajarannya. Kita tidak mahu mati sebagai insan munafiq yang tidak istiqamah dalam
perjuangan, sebaliknya di humbankan pula oleh Malaikat ke dalam neraka.

Wednesday, May 21, 2008

Peringatan untuk ahli gerakan Islam


Sesungguhnya perjalanan kita masih
jauh dan entah di mana penghujungnya.
Di lorong-lorong yang akan kita susuri
sudah pasti terhidang di sana pelbagai
onak dan duri yang sudah lama menanti.

Ingatlah tidak pernah tercatat dalam
sejarah dunia, Islam diterima dengan
puji-pujian.

Sesungguhnya Islam tidak diterima
dengan hamparan permaidani merah atau
diserikan lagi dengan bunga manggar
tetapi sedarlah saudaraku,
sesungguhnya Islam diterima dengan
kilauan mata pedang yang akhirnya
menghadirkan darah merah membasahi
bumi. Itulah gambaran hidup seorang
mujahid dan kita mesti menuju ke arah
itu.

Kekadang kita berbisik sendirian,
mampukah aku? Kita belum tahu tetapi
kita berdoa semoga Allah memberikan
kita kekuatan yang jitu semoga kita
selamat menghembuskan nafas sedangkan
hati kita masih segar berpaterikan
syahadah suci.

Saturday, August 4, 2007

BERJUANG SENDIRIAN...BETULKAH??



BERJUANG SENDIRIAN...BETULKAH??

Uzlah
Erti Uzlah secara istilah iaitu mengutamakan hidup menyendiri daripada hidup berjamaah. Orang yang beruzlah merasa cukup mengamalkan ajaran Islam untuk dirinya sendiri, tanpa mempedulikan kondisi orang lain. Atau dia menjalankan ajaran Islam dan berjuang menegakkan Islam di kalangan manusia, tetapi sendirian, tidak melakukan kontak dan saling menolong dengan pejuang Islam lainnya. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan uzlah diantaranya berhenti pada nas-nas Al-Qur'an dan hadits yang menganjurkan beruzlah dan mengabaikan nas-nas lain yang menganjurkan hidup berjamaah.

Rasulullah saw bersabda, "Akan datang suatu masa, di mana sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing. Dia menggembala di puncak-puncak bukit dan di tempat-tempat air hujan berkumpul (lembah) untuk menjaga agamanya dari bencana." (HR Bukhari)
Dalam suatu riwayat, seseorang bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah orang yang paling baik amalnya?" Rasulullah saw menjawab, "Orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah." "Kemudian siapa lagi?" tanya orang tersebut. "Orang yang mengasingkan diri ke puncak-puncak bukit untuk menyembah Tuhannya, supaya ia terhindar dari kejahatan." jawab Rasulullah saw. (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, "Termasuk kehidupan yang terbaik adalah seseorang yang menyiapkan hidupnya untuk berjihad di jalan Allah. Dia segera melompat ke punggung kuda ketika mendengar trompet perang sambil menunggu komando. Dia segera memacu kudanya ke medan perang mencari kematian (syahid) yang didambakannya. Atau, seseorang yang hidup dengan seekor kambing yang digembalakannya di puncak-puncak bukit dan di lembah-lembah. Dengan hidup sederhana, dia menunaikan solat, membayar zakat, beribadah kepada Tuhan terus-menerus sampai dia meninggal dan tidak pernah merugikan umat manusia ... " (HR Muslim).
Sedangkan nas-nas yang menganjurkan hidup berjamaah diantaranya iaitu firman Allah swt, " ... Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya." (QS al-Maidah: 2) "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (QS ash-Shaf: 4)

Rasulullah saw bersabda, "Jauhilah hidup menyendiri. Kamu wajib berjamaah kerana setan bersama orang yang menyendiri. Setan menemaninya dari jauh. Barangsiapa menghendaki surga, dia harus selalu berjamaah." (HR Tirmidzi)
Orang yang hanya memperhatikan nas-nas yang menganjurkan beruzlah dan mengabaikan nas-nas yang menganjurkan hidup berjamaah dapat terkena penyakit beruzlah atau hidup menyendiri. Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang beruzlah karena ia melihat secara lahiriah perilaku kaum salaf yang lebih memilih hidup menyendiri daripada hidup berjamaah. Kaum salaf hidup beruzlah kerana belum mempunyai cara untuk melakukan perbaikan, sementara kaumnya masih tetap pada kekafirannya. Kerana takut terkena fitnah, dia pun menjauhkan diri dari masyarakat untuk sementara. Motivasi yang mendorong kaum salaf untuk hidup beruzlah adalah untuk memelihara tangan-tangan mereka agar tidak terjerumus dalam pertumpahan darah akibat konflik diantara para sahabat sendiri, yang tidak, yang tidak diketahui kelompok mana yang benar dan mana yang salah. Bila orang hanya melihat uzlah kaum salaf tanpa melihat situasi dan kondisi yang terjadi pada waktu itu, maka akan muncul keinginan untuk beruzlah atau hidup menjauh dari jamaah muslimin, walaupun sebenarnya situasi dan kondisi tidak membolehkan dia beruzlah.

Menganggap hidup berjamaah akan menghilangkan kepribadian dapat menjadikan seseorang hidup beruzlah. Kepribadiannya akan lebur dalam jamaah. Yang tinggal pada dirinya hanyalah jiwa yang tidak berpendirian.Bila jamaahnya baik, berarti dia menjadi baik; jika jamaahnya buruk maka dia menjadi buruk pula. Dia lupa bahwa jalan Islam berada diantara hidup menyendiri dan berjamaah. Jalan Islam berdiri di atas ajakan kepada setiap muslim untuk hidup berjamaah dan setiap orang juga tetap dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dilakukan selama hidup di dunia. Allah berfirman, "Tiap-tiap diri bertanggung jawab terhadapapa yang diperbuatnya." (QS al-Muddatstsir: 38) "Dan takutlah kamu kepada suatu hari di mana seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikitpun ... " (QS al-Baqarah: 123)
Rasulullah saw bersabda, "Wajib bagi seorang muslim untuk mengajak dengan syarat dan adab yang baik - kepada setiap orang untuk masuk ke dalam jamaah agar menjadi tinggi dan menjadi luhur kedudukan agama Allah." Ada yang bertanya, "Untuk siapa?" Rasulullah saw menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya (Al-Qur'an), Rasul-Nya dan umat Islam semuanya." (HR Abu Dawud)
Riwayat lain menyebutkan, "Seorang mukmin merupakan cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat aib pada saudaranya, dia harus meluruskannya (memperbaikinya)." (HR Abu Dawud)

Seseorang yang memilih beruzlah (menyendiri) dapat pula disebabkan ia tidak mau menanggung beban yang akan muncul bila hidup berjamaah. Jama'ah memang terdiri dari banyak individu. Pengaturan urusan kehidupan mereka berlangsung dari dini hari hingga malam, bahkan terkadang tidak ada habisnya. Selain itu, biasanya kepentingan jamaah berbeda dengan kepentingan individu. Jika seseorang tidak sadar akan hal ini, dia akan terlibat total dalam jamaah, hingga dia menelantarkan ibadahnya, pendidikan anak-anaknya dan keluarganya. Akhirnya, hawa nafsu menguasai dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan merasa tidak kuat menangani urusan jamaahnya. Ketika itulah dia akan mencari jalan keluar dengan cara beruzlah.
Alasan seseorang beruzlah dapat pula disebabkan kerana dia merasa keburukan dan kerusakan sudah berleluasa dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim. Tanggung jawab sebagai seorang muslim adalah berusaha untuk meluruskannya dengan menggunakan metode, cara dan peralatan atau prasarana yang tepat. Janganlah seseorang beruzlah kecuali jika kerusakan dan keburukan tersebut sudah sangat parah di masyarakat. Bila sudah demikian, lebih baik dia beruzlah, jika dia takut terkena fitnah.

Rasulullah saw bersabda, "Perumpamaan orang yang mematuhi larangan Tuhan dari yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang mengadakan undian di atas kapal. Sebahagian mereka mendapat tempat di bahagian atas kapal dan sebahagian yang lain mendapat tempat di bawahnya. Orang-orang yang mendapat tempat di bawah, jika ingin mengambil air minum harus melalui orang yang berada di atas. Mereka yang berada di bawah kemudian berpikir untuk membuat sebuah lubang air agar tidak mengganggu mereka yang di atas. Jika kelompok yang di atas membiarkan maksud mereka yang berada di bawah, tentulah seluruh orang yang berada di atas kapal tersebut akan binasa. Sebaliknya, jika kelompok yang berada di atas melarang, maka selamatlah mereka semua." (HR Bukhari)

Kehidupan mengasingkan diri atau beruzlah mempunyai kesan yang membahayakan dan mempunyai akibat yang buruk. Kesan buruk tersebut diantaranya ketidaktahuan yang bersangkutan akan kepribadiannya sendiri. Hal ini kerana seseorang tidak mungkin mengetahui pribadinya sendiri dengan baik tanpa bantuan orang lain. Dia perlu orang lain untuk menilai pribadinya. Seseorang dapat mengetahui apakah dirinya termasuk orang yang egois ataukah mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi apabila dia bergaul dengan orang lain. Contohnya, jika dia berjumpa dengan orang yang membutuhkan bantuannya, dia dapat melihat dirinya. Bila hatinya keras dan tidak mau memberikan bantuan, berarti dia egois. Sebaliknya, bila hatinya menjadi lunak dan memberikan bantuan, berarti dia mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi. Begitu pula, seseorang tidak mungkin mengetahui apakah dirinya lemah lembut dan sabar ataukah kasar dan tergesa-gesa tanpa bergaul dengan orang lain. Jadi, sesungguhnya jalan agar seseorang dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya dan dapat berusaha memperbaiki kelemahannya tersebut adalah dengan hidup berjama'ah.
Rasulullah saw bersabda, "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu kecacatan pada diri saudaranya, dia harus memperbaikinya." (HR Bukhari dan Abu Dawud)

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memberikan teman yang baik. Jika dia lupa, temannya mengingatkannya; jika dia ingat, temannya mengawasinya." (HR Ahmad)
Seseorang yang hidup beruzlah tidak akan mempunyai teman yang akan mengingatkannya bila suatu saat dia melakukan suatu kesalahan. Cara-cara menghindari uzlah iaitu memahami dengan sebaik-baiknya hubungan antara teks-teks yang menganjurkan uzlah dan teks-teks yang menganjurkan bercampur baur dengan masyarakat dan mewajibkan berjamaah. Kerana, hidup bermasyarakat merupakan asal (dasar), sedangkan hidup beruzlah merupakan perkara khusus yang dilakukan hanya dalam keadaan darurat, misalnya di waktu tidak ada satu pun di kalangan masyarakat yang berpegang teguh pada ajaran Islam.
Menggunakan metode Islam yang memadukan kehidupan individual dan kolektif. Ini akan mendorong seseorang untuk selalu hidup bermasyarakat dan pada waktu yang sama memperhatikan kepentingan pribadinya. Mengikuti dengan sebenar-benarnya jalan yang ditempuh Rasulullah saw dalam menyebarkan dakwah dan mendirikan masyarakat yang Islami.

Memperhatikan kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita. Kehidupan makhluk-makhluk tersebut satu dengan lainnya saling membantu dan bekerja sama. Sekelompok lebah bekerja sama dalam membangun, membersihkan dan melindungi rumahnya dari serangan musuh. Mereka bekerja sama dalam mencari madu bunga. Apabila makhluk- makhluk tersebut dapat dan selalu bekerja sama dalam kelompoknya, maka kita sebagai manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah swt dengan akal, kebebasan berpikir dan kebebasan berkehendak serta dijadikan pemimpin di alam ini seharusnya dapat lebih baik dalam hidup bermasyarakat.

MY CURRICULUM VITAE

FREE BLOGGER TEMPLATE